BATURAJAA –teratainews.id Di tengah bangsal RSUD Ibnu Sutowo Baturaja, seorang balita mungil berusia 14 bulan bernama Muhammad Rasyid tengah berjuang melawan ganasnya penyakit gastroenteritis atau muntaber. Namun, di balik ranjang rumah sakit itu, terselip sebuah kisah tentang harapan dan dedikasi luar biasa dari aparatur negara yang menolak membiarkan warganya kesulitan di saat kritis.
Kini, secarik kertas Kartu Keluarga (KK) baru telah terbit. Bagi keluarga Rasyid, ini bukan sekadar dokumen administratif, melainkan kunci pembuka akses pengobatan dan jaminan masa depan yang lebih baik. Beban berat di pundak Bapak Cipto perlahan terangkat, memungkinkannya untuk fokus sepenuhnya pada kesembuhan sang anak tanpa perlu lagi memikirkan rumitnya pindah domisili.
Keluarga Bapak Cipto, orang tua dari Rasyid, sempat didera kecemasan hebat. Bukan hanya karena kondisi kesehatan sang buah hati yang menurun, tetapi juga karena terganjal urusan birokrasi. Mereka yang sebelumnya berdomisili di Desa Karang Raja, Prabumulih Timur, kini menetap di sebuah gang kecil bernama Gang Mawar, Desa Tanjung Baru, Baturaja Timur. Perbedaan data alamat pada Kartu Keluarga (KK) menjadi tembok besar yang menghalangi akses bantuan kesehatan yang mereka butuhkan.
Melihat kesulitan warganya, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten OKU, Suryadi, membuktikan bahwa pelayanan publik tidak selamanya kaku dan berbelit. Beliau menginstruksikan timnya untuk segera melakukan aksi "Sigap Cepat". Tanpa menunggu keluarga datang ke kantor, petugas justru hadir menjemput bola, membawa secercah harapan langsung ke hadapan orang tua Rasyid yang sedang kalut.
Langkah nyata ini diambil karena prinsip kemanusiaan harus berada di atas segalanya. "Negara harus hadir saat rakyatnya merasa terjepit. Urusan nyawa tidak boleh menunggu urusan kertas," tegas Suryadi. Dengan koordinasi lintas wilayah yang cepat antara Pemkab OKU dan Pemkot Prabumulih, proses penarikan data pindah yang biasanya memakan waktu, kini diselesaikan dalam hitungan jam secara daring.
Suryadi menerangkan bahwa integrasi data ini sangat krusial agar keluarga Bapak Cipto yang kini tinggal di Jl. Jendral No. 151 RT 02 RW 02 Baturaja Timur mendapatkan hak yang sama sebagai warga setempat. Ketegasan dan empati yang ditunjukkan oleh jajaran Disdukcapil ini menjadi bukti bahwa birokrasi di era modern mampu bertransformasi menjadi pelindung bagi masyarakat miskin dan mereka yang membutuhkan bantuan darurat.
Kini, secarik kertas Kartu Keluarga (KK) baru telah terbit. Bagi keluarga Rasyid, ini bukan sekadar dokumen administratif, melainkan kunci pembuka akses pengobatan dan jaminan masa depan yang lebih baik. Beban berat di pundak Bapak Cipto perlahan terangkat, memungkinkannya untuk fokus sepenuhnya pada kesembuhan sang anak tanpa perlu lagi memikirkan rumitnya pindah domisili.
Kisah ini menjadi pengingat sekaligus motivasi bagi kita semua bahwa dedikasi dalam bekerja dapat menyelamatkan nyawa. Pelayanan prima bukan hanya soal kecepatan, tapi soal kepedulian. Apa yang dilakukan Disdukcapil OKU adalah teladan nyata tentang bagaimana seorang pelayan publik seharusnya berdiri tegak: menjadi sandaran bagi mereka yang lemah dan solusi bagi mereka yang kesulitan.
Semoga kesigapan ini menjadi pemantik semangat bagi instansi lain untuk terus berinovasi dan bekerja dengan hati. Kepada Muhammad Rasyid, doa dari seluruh lapisan masyarakat mengalir agar ia segera pulih dan tumbuh menjadi anak yang membanggakan, di bawah naungan perlindungan negara yang hadir nyata bagi setiap warganya.
(Tnews)Husin basrah